Sejarah Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Secara harfiah, nama “Ampel Denta” berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa Jawa, yaitu “Ampel” dan “Denta”.
Ampel merujuk pada nama daerah yang berarti jenis tanaman berumpun.
Ampel Denta di kota Surabaya adalah nama “kuno” atau “tua”, yang usianya sudah ratusan tahun. Nama ini semakin viral seiring dengan kedatangan Raden Rahmat, yang kemudian terkenal dengan nama Sunan Ampel.
Sunan Ampel adalah kependekan dari “Susuhunan di Ampel”. “Susuhunan” adalah gelar bangsawan dan tokoh agama terkemuka di Jawa, yang berarti “yang disembah” atau “yang dihormati”. Sementara “Ampel” adalah nama daerah tempat beliau menyebarkan agama Islam.
Arti Sebuah Nama
Nama lengkap dari “Ampel” ini adalah “Ampel Denta”. Sekarang Ampel Denta semakin luas dan bahkan di era yang semakin modern terbentuk sebagai unit kelurahan di Surabaya. Ada banyak nama nama yang diawali dengan kata Ampel. Ada Ampel Gading, Ampel Kembang, Ampel Menara, Ampel Kejeron, Ampel Suci, Ampel Qubah, dan masih ada lagi Ampel lainnya.
Ada pertanyaan, dari sekian nama nama Ampel, dimanakah titik Ampel Denta?
Secara umum, penamaan nama nama kampung biasanya didasarkan pada suatu penanda yang ada di daerah itu. Misalnya, daerah yang banyak pohon Wiyu, bisa disebut “Kampung Wiyung”, atau yang dekat kali (sungai), disebut “Kalimeer”. Cara penamaan jalan seperti ini juga diterapkan oleh VOC di Surabaya dalam menamakan jalan jalan di Kota Lama. Misalnya Oud Hospitaal Straat (jalan Rumah Sakit Lama) karena pernah ada Rumah Sakit lama. Lainnya ada Willemskade (Dermaga Willem) karena ada dermaga sungai dan Bank Straat (jalan Bank) karena ada sebuah bank.
Menilik secara harfiah “Ampel Denta”, yang terdiri dari dua kata “Ampel” dan “Denta”, bahwa Ampel adalah sejenis tanaman berumpun. Dalam bahasa Jawa, “Ampel” bisa berarti rumput alang-alang atau tanaman berumpun seperti bambu.
Sedangkan kata “Denta” memiliki arti gading atau putih (seperti gading). Warna putih gading (ivory) adalah warna putih, yang lembut dengan sedikit rona kekuningan, menyerupai warna gading asli.

Nah sekarang, apakah “Ampel Denta” itu adalah “Ampel Gading”, yang secara alamiah dulu pernah tumbuh tanaman berumpun bambu kuning ?
Menurut sepengetahuan mantan jurnalis, Budi Utomo, bahwa Ampel berarti bambu. Sedangkan Denta adalah gading. Jadi Ampel Denta adalah Pring Gading atau bambu kuning.
“Ampel” iku tegese “Pring” utowo “bulu bambu”. Sementara “Denta” itu “gading”. Jadi “Ampel denta” iku artine “Pring gading” utowo “pring kuning”, jelas Budi.
Sayang sekali, nama Ampel Denta ini tidak terpakai sebagai nama Kampung di kelurahan Ampel. Namun namanya digunakan sebagai nama siaran radio lokal (komunitas) di komplek Masjid Ampel.
Hindu Budha
Pada masa Kerajaan Majapahit wilayah ini (Ampel Denta) masih kental dengan budaya Hindu-Buddha.

Fakta keyakinan itu dapat dibuktikan dari temuan bebatuan sebagai struktur candi yang berjenis batu andesit. Temuan itu terjadi ketika ada penggalian tanah untuk proyek pembangunan komplek Masjid Ampel.

Selain struktur batu andesit yang ukurannya 60 cm dan 40 cm, juga ada artefak beberapa gentong andesit. Artefak gentong andesit umumnya menandakan adanya aktivitas manusia, yang signifikan di masa lalu, yang seringkali terkait dengan praktik penguburan atau ritual pemujaan terhadap leluhur.
Temuan Benda Arkeologi
Penemuan artefak di situs arkeologi memberikan wawasan berharga mengenai budaya dan kepercayaan masyarakat kuno. Ini terkait dengan masyarakat di Ampel Denta pada masa sebelum Islam atau pada awal masuknya Islam di Ampel Denta.

Terdapatnya temuan arkeologi di kawasan Masjid Ampel mengindikasikan kuat bahwa wilayah Ampel sebelumnya adalah lokasi tempat suci atau pusat kegiatan keagamaan Hindu. Penemuan batu-batu candi saat pembangunan atau renovasi di sekitar area Masjid Ampel menunjukkan adanya bangunan peribadatan Hindu di masa lampau.

Bahkan hingga sekarang masih terdapat sejumlah adat atau kebiasaan yang dianut oleh masyarakat lokal yang menjalankan tradisi keagamaan seperti memperingati hari kematian yang dimulai dari tahlil, acara Khaul, dan memperingati Maulid.
Sinkretis
Sebetulnya tradisi selamatan di atas bukanlah murni tradisi Hindu, tetapi merupakan tradisi sinkretis Jawa, yang kaya akan unsur pra-Islam (Hindu-Budha, animisme) dan Islam.

Tradisi sinkretis adalah praktik budaya atau keagamaan, yang muncul dari perpaduan dua atau lebih tradisi dan keyakinan.
Adapun Masjid Ampel sendiri, secara arsitektural merupakan perpaduan seni Hindu, Islam, Jawa dan kolonial. (PAR/nng).
