Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Penulis cerita ini bukanlah seorang arkeolog, yang mampu membaca jejak sejarah yang tersimpan pada warisan budaya percandian dengan sangat baik. Perlu diketahui bahwa seorang ahli tentang percandian memang disebut arkeolog, yang berspesialisasi dalam arsitektur kuno dan studi monumen, atau kadang-kadang secara lebih spesifik disebut pakar candi atau sejarawan arsitektur kuno.
Dari sekian jumlah percandian baik di Jawa Timur maupun Jawa Tengah dan DIY, yang pernah saya kunjungi baik dalam kaitan dengan pekerjaan maupun berwisata, hanya candi Jawi yang reliefnya menggambarkan dan memiliki perspektif arsitektur dan keunikan. Pada satu fragmen relief candi ini, ada desain arsitektur komplek Candi Jawi.
Bertingkat
Relief ini menggambarkan sebuah kompleks candi dengan satu candi utama dan tiga candi perwara di depannya serta parit bujur sangkar dari batu bata, yang mengelilingi percandian.
Candi Perwara adalah candi-candi kecil pelengkap candi utama, yang berderet di depan candi besar, yang berfungsi sebagai pendamping, tempat semedi atau pemujaan awal, dengan arsitektur seragam dan atap berbentuk mahkota sebagai simbol keagamaan (Hindu-Budha), melambangkan harmoni dan persembahan dari penguasa lokal.
Aerial View

Pembuat atau pemahat relief pada zaman itu awal abad 14 mengambil perspektif dari atas (aerial view). Desainnya persis. Jika dibandingkan dengan foto aerial view era sekarang, tampak kesamaan antara perspektif relief dan angle foto.

Pembuat relief pada zaman itu menggunakan perspektif visual yang unik, yang sering kali memberikan kesan seolah-olah dilihat dari atas (sudut pandang udara/ aerial view), meskipun mereka belum memiliki kemampuan untuk benar-benar melihat objek dari udara karena tidak ada pesawat atau kamera drone. Kesamaan desain antara relief kuno dan foto udara modern ini menunjukkan kemampuan observasi, imajinasi dan abstraksi yang luar biasa dari para seniman zaman dahulu.

Bangunan Candi menghadap ke timur, menyongsong datangnya sinar mentari pagi. Digambarkan bahwa candi ini terdiri atas tiga tingkatan.
Pertama, kaki candi yang merupakan bagian terbawah dari candi, yang melambangkan manusia yang masih dikuasai nafsu rendah seperti keserakahan, kebohongan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan hawa nafsu.
Kedua, badan candi yang merupakan lambang dari usaha manusia untuk mengalahkan nafsu keduniawian.
Terakhir, atap candi merupakan lambang dari kehidupan manusia yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan, nirwana.
Candi Jawi secara fisik menghadap ke Gunung Penanggungan, tempat yang dianggap paling suci dan tinggi oleh masyarakatnya.

Sementara itu, pintu masuk candi yang menghadap ke timur. Ini bukan tanpa alasan. Hal ini menegaskan bahwa bahwa candi ini bukan tempat pemujaan atau pradaksina atau upacara penghormatan terhadap dewa.
Pintu candi, yang menghadap Timur, umumnya melambangkan awal kehidupan, kebangkitan, dan dunia spiritual yang lebih tinggi.
Gajah

Selain ada gambar perspektif Arsitektur, pada bagian relief lainnya ada gambar seekor gajah, yang menjadi kendaraan. Bukan sembarang kendaraan dan bukan pula sembarang orang, yang mengendarainya. Pengendaranya adalah seorang pemimpin atau raja.
Dalam cerita Jawa, ada teka teki dolanan yang dibuat dalam tembang Macapat. Kutipan tembaga itu berbunyi:
“Bapak Pucung, dudu watu dudu gunung. Mijil saking sabrang, titihane Sri Bupati”.
Teka-teki Jawa dalam tembang Macapat Pucung ini jawabannya adalah gajah, karena gajah (Bapak Pucung) bukanlah batu atau gunung. Gajah datangnya dari seberang, yang bisa saja dari Sumatra, Asia atau Afrika, dan menjadi tunggangan para bupati atau raja.
Itulah keunikan relief pada Candi Jawi di Pasuruan Jawa Timur. Ada perspektif desain tata ruang dan gambar gajah sebagai kendaraan seorang pemimpin. (PAR).
