Jangan Biarkan Budaya Terkubur & Bahkan Menjadikan Kita Terkubur Olehnya.

Aksara Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Siapa yang menjunjung sejarah kalau bukan kita? Warisan sejarah adalah milik kolektif umat manusia, dan kitalah yang memegang tanggung jawab utama untuk menghargai, menjaga, dan mempelajari serta melestarikannya.

Sejarah jangan biarkan larut dan tenggelam oleh waktu. Sejarah memberikan pelajaran berharga tentang keberhasilan dan kegagalan manusia, membantu kita membuat keputusan yang lebih baik di masa kini dan masa depan.

Memahami sejarah bisa membantu membentuk identitas pribadi dan nasional serta memberikan rasa keterhubungan dengan akar dan warisan budaya.

Sejarah juga menawarkan wawasan tentang bagaimana masyarakat, pemerintahan, dan teknologi telah berkembang seiring waktu.

Satu lagi, dengan mempelajari kesalahan sejarah, kita dapat berupaya mencegah terulangnya tragedi serupa.

Nama Bupati Surabaya Radyan Tumenggung Kramajayadirana tertulis dalam aksara Jawa di  Masjid Kemayoran Surabaya.Foto: dok

Ternyata sejarah telah mencatat dan merekam kita dengan literasi aksara bahwa kita ternyata punya identitas baik pribadi maupun nasional.

Surabaya memiliki data otentik tentang digunakannya aksara Jawa seperti tertera pada komplek Masjid Sunan Ampel, Masjid Kemayoran Surabaya dan komplek makam para Bupati Surabaya.

Prasasti di masjid Jami’ Sumenep. Foto: ist

Di kota lain adalah di Sumenep dimana di Masjid Jami’, Komplek makam para Raja di Asta Tinggi, serta di Lingkungan Keraton Sumenep.

Apalagi di beberapa situs arkeologi di Trowulan dan bekas bekas percandian dimana prasasti prasasti beraksara tradisional ditemukan. Semua itu menunjukkan bahwa para leluhur berkomunikasi dan menyampaikan pesan kepada generasi berikutnya. Dengan kata lain, itu semua memberikan bukti kuat tentang metode komunikasi dan transmisi pesan antar generasi leluhur di Nusantara.

Pecahan prasasti dalam aksara Kawi di Pusat Informasi Majapahit Trowulan. Foto:ist

Semudah itukah kita sebagai sebagai generasi penerus melupakannya? Terlalu naif.

Jangan jadi seseorang yang terlalu polos, lugu, dan kurang pengalaman sehingga mudah percaya pada orang lain, tidak kritis, dan cenderung melihat segala sesuatu dari sisi positifnya saja, bahkan ketika ada potensi bahaya atau niat buruk, yang sering kali membuatnya mudah dimanfaatkan atau tertipu.

Jadilah orang yang tangguh bagai benteng pelindung untuk menjaga identitas bangsa. Pahamilah dan hargailah warisan budaya. Akuilah nilai-nilai luhur, adat istiadat, dan sejarah bangsa sebagai fondasi identitas yang kokoh. Indonesia perlu generasi pelindung untuk mengisi buah kemerdekaan.

Gerbang Labeng Mesem keraton Sumenep. Foto: ist

Kita kaya. Mari kita jaga kekayaan itu. Salah satunya adalah literasi aksara tradisional. Surabaya punya, Sumenep punya. Mojokerto ada. Lainnya juga punya.

Bangsa asing, Belanda telah mengembalikan ribuan artefak sebagai bukti pengakuan semua itu adalah milik kita. Bisakah kita memahaminya dan menjaganya.

Ayo jangan biarkan nilai nilai budaya itu terkubur dan bahkan menjadikan kita terkubur olehnya! (PAR/nng).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *