Sejarah Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Sepasang object (artefak) dan narasi adalah utama dalam memahami sesuatu. Proses belajar. Object untuk dipandang mata, lalu diproses (dicerna) dan menjadi masukan (input). Pun demikian dengan narasi, lalu diproses (dicerna) melalui pendengaran atau dibaca dan menjadi masukan (input). Kedua komponen tersebut berfungsi sebagai saluran utama untuk memperoleh dan memproses informasi.
Adanya proses informasi ini penting dalam sebuah wadah untuk berbagi. Apalagi proses itu ditata dan diatur secara kronologis dan sistematis. Ini akan memudahkan para pencari informasi.
Wadah informasi itu seperti lingkup Peneleh, Kota Lama Surabaya atau Perkampungan kuno Leran Gresik. Tentunya, tidak ada yang tidak bisa. Semua tergantung dari niat manusianya.

Selain dua komponen di atas (artefak dan narasi), diperlukan juga object manusia (orang). Orang adalah “buku”, yang juga menjadi sumber dan transformator informasi. Sehingga secara keseluruhan ada tiga unsur penting dalam membentuk sebuah iklim Living Museum and Library: Object, Narasi dan Manusia.
Tiga komponen penting (artefak, narasi, dan manusia/orang) untuk membentuk iklim “Museum dan Perpustakaan Hidup” (Living Museum and Library) sudah dirasa tepat. Konsep ini memang menekankan interaksi dinamis antara objek fisik, cerita di baliknya, dan peran aktif manusia sebagai sumber dan penyebar pengetahuan.
Dalam konteks ini, peran manusia sangatlah sentral, bukan hanya sebagai pengunjung pasif, tetapi sebagai Narasumber Hidup. Orang dapat berbagi pengalaman pribadi, pengetahuan tradisional, atau keahlian khusus yang tidak selalu dapat ditemukan dalam buku atau deskripsi artefak.
Dalam kapasitas iklim Living Museum atau Library, mereka bisa menjembatani kesenjangan antara objek dan pengunjung, membantu menginterpretasikan makna, yang lebih dalam dan relevan.
Melalui interaksi dan dialog, informasi menjadi lebih hidup dan relevan dengan pengunjung yang memang beragam yang bisa menjadi upaya untuk memastikan pengetahuan terus berkembang dan tidak statis.
Leran
Desa Leran di Kecamatan Manyar kabupaten Gresik adalah Kampung kuno dengan situs makam Siti Fatimah binti Maimun (abad 11) dan temuan serta situs arkeologi lainnya. Letaknya di pinggir sungai Manyar dan di delta Bengawan Solo (Utara) dan anak sungai Brantas (Selatan). Konon kawasan ini adalah kawasan pelabuhan kuno antar pulau (Dwipantara).

Desa Leran tentu memiliki cakupan (coverage area) yang didalamnya terkandung nilai nilai. Luas wilayah desa Leran adalah 1.367,79 hektar. Pada batas Utara ada Desa Betoyoguci, Desa Banyuwangi dan Desa Manyarejo. Pada Batas Barat ada Desa Kemudi. Pada Batas Selatan ada Desa Banjarsari, Desa Tebalo dan Desa Duduksampeyan. Sedangkan pada batas Timur ada Desa Peganden dan Desa Manyar Sidomukti.
Dari kawasan Desa Leran sendiri harus sudah mulai dipetakan poin poin interest sehingga membentuk jaringan laba laba yang berpusat pada Makam Siti Fatimah binti Maimun sebagai mercusuarnya.

Poin poin itu dari mercusuar juga perlu dipetakan jarak dan isi masing masing poin. Apapun yang mengandung nilai (sejarah, budaya, kuliner dan lain lain) dapat dipetakan yang selanjutnya dibuat mapping potensi sejarah budaya Leran.
Setelah terpetakan maka dibutuhkan pihak pihak (orang) yang dapat menjelaskan pemetaan itu. Merekalah ujung tombak yang bisa disebut Garda Budaya Leran. Masih ada lainnya yang perlu diperdalam dan diperjelas. (PAR/nng)
