Sejarah Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Ini sebuah gagasan belaka. Dilakukan akan baik, tidak dilakukan juga tidak apa apa.
Mungkin selama ini kawasan Kota Lama Surabaya, khususnya pada zona Eropa, sudah ada yang mengatakan bahwa keberadaan zona Eropa sudah layak sebagai museum hidup. Tidak salah karena itu sudah menjadi pengamatan empiris publik. Tapi pengamatan itu masih bersifat parsial dan belum menjadi kesadaran kolektif dari semua stakeholder.
Agar Zona Eropa di Kota Lama Surabaya menjadi living museum (museum hidup) yang efektif, maka dibutuhkan integrasi antara pelestarian fisik cagar budaya, pengembangan narasi sejarah yang kaya, integrasi teknologi, peningkatan pengalaman pengunjung melalui paket wisata terpadu, serta keterlibatan aktif komunitas lokal untuk menjaga keaslian kehidupan sehari-hari dan ekonomi kawasan, menjadikannya ruang hidup yang dinamis, bukan sekadar bangunan tua.
Long Road

Ini merupakan langkah besar yang multi years untuk sampai pada titik sempurna. Secara fisik keberadaan bangunan bangunan bergaya arsitektur kolonial di sana sudah mengisi ruang zona Eropa. Perlu ada pendekatan pendekatan lain untuk menghidupkan sosok fisik itu.

Mitra dari Amsterdam mengatakan dalam sebuah momen ngopi pagi di Kota Lama pada 23 Desember 2025 lalu bahwa kawasan Eropa ini bisa menjadi museum hidup, layaknya konsep “Peneleh as a Living Library”.
Memasuki kawasan Eropa ini sungguh bagai masuk lorong waktu (Time tunnel) Surabaya di abad 18 dan 19. Untuk mencapai mimpi itu, salah satu yang harus dikerjakan adalah pengembangan narasi sejarah yang kaya.

Kawasan Eropa di Kota Lama Surabaya ini, secara historis, adalah sebuah kota kecil, yang merupakan replika kota kota bertembok di Eropa, utamanya di Belanda seperti di kota tua Elburg atau Amersfoort. Kedua kota tua ini adalah kota bertembok. Sama seperti Surabaya di abad 18, yang jejak struktur temboknya masih tersisa dan ada. Apakah Anda tahu?
Untuk mengetahui bagaimana tata ruang kota kota tua di Belanda, sebenarnya cukup dengan belajar dari kota lama Surabaya. Misalnya tentang sebuah sentrum kota, dimana ada lapangan alun alun, disana ada kantor pemerintah dan gereja. Di kota lama Surabaya pernah ada konsep tata ruang seperti itu.

Taman Sejarah, yang ada sekarang, adalah Alun Alun Willemsplein yang di sisi Utaranya pernah ada Balai Kota (Stadhuis) dan di Baratnya pernah ada gereja Protestan. Sekarang kedua gedung itu sudah tidak ada. Yang ada tinggal lapangan, yang sekarang disebut, Taman Sejarah.
Semua tentang konsep kota itu harus dinarasikan secara sistematis. Mengingat era sekarang adalah era teknologi maka konsep Living Museum itu harus diintegrasikan dengan kemajuan teknologi. Sekarang membaca buku tidak secara konvensional seperti dulu. Dengan perangkat teknologi, siapapun bisa mencari sumber sumber ilmu pengetahuan. Kelebihan teknologi ini harus dimanfaatkan untuk pengembangan kota Lama.
Mungkin sudah ada pemikiran seperti itu tapi berapa persen telah diimplementasikan sebagai jendela dan sarana informasi di kota lama. Kota Lama Surabaya, khususnya zona Eropa ini, ukurannya tidak seluas Kota Lama Semarang dan Kota Tua Jakarta. Maka wilayahnya (Surabaya) sangat cukup untuk dijangkau dengan teknologi informasi.

Memang, untuk pemetaan yang bakal menjadi object informasi, harus dilakukan dengan cermat. Ketika zonanya adalah zona Eropa Kota Lama Surabaya, maka luasannya (coverage) areanya, sebatas apa saja. Jika salah dalam pemetaan, maka akan menjadikannya kabur dalam memahami kota lama bertembok Surabaya.
Wilayah zona Eropa kota Lama Surabaya sebenarnya sudah kelihatan. Ada peta peta lama yang dijadikan acuan. Ada batasan wilayah dan periode waktu untuk mengatakan Kota Lama Surabaya bertembok. (PAR/nng)
