Menanti Jatim Berekspresi Dalam Aksara Daerah Sebagai Implementasi Budaya Literasi Tradisional.

Aksara Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Secara regional provinsi Jawa Timur diapit oleh provinsi provinsi, yang dalam kebijakan daerahnya sudah mulai sadar akan pentingnya menjaga dan melestarikan aksara daerah. Misalnya di Timur ada provinsi Bali. Di Barat ada Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Tengah dan Jawa Barat. Mereka sudah menggunakan aksara daerah masing masing demi menjaga, melindungi dan melestarikan aksara daerahnya. Implementasinya adalah penggunaan aksara untuk penamaan nama-nama jalan.

Penggunaan aksara Jawa untuk nama jalan di Yogyakarta. Foto: ist

Aksara aksara itu memberikan identitas daerah masing masing. Aksara Sunda untuk Jawa Barat. Aksara Jawa untuk DIY dan Jateng serta aksara Bali untuk Bali. Lantas Jawa Timur punya apa?

Literasi tradisional yang masih berkelanjutan adalah aksara Jawa di Jawa karena jika mundur ke belakang, kebanyakan provinsi provinsi di Nusantara menggunakan aksara yang relatif sama yaitu Jawa Kuno atau Kawi.

Memang banyak aksara daerah di Nusantara, termasuk aksara Jawa, Bali, Sunda Kuno, dan lainnya, diturunkan dari aksara Brahmi melalui perantara aksara Pallawa dari India Selatan. Lalu turun ke Aksara Kawi, yang berkembang dari Pallawa di Jawa kuno sekitar abad ke-8 Masehi, lantas menjadi dasar bagi banyak aksara di kepulauan ini pada zaman kerajaan kerajaan Hindu-Buddha.

Penggunaan aksara Jawa di Surakarta (Sala). Foto: ist

Surabaya sebagai ibukota Jawa Timur masih sebuah daerah otonom, yang telah mengeluarkan kebijakan penulisan aksara Jawa di ruang publik, meski masih terbatas pada lingkungan pemerintah kota Surabaya. Diharapkan bisa lebih meluas lagi, yang menyentuh lingkungan masyarakat. Yaitu untuk penamaan nama nama jalan seperti halnya di DIY, Bali dan Jabar. Mereka menggunakan aksara daerah sebagai bagian dari upaya pelestarian dan penguatan identitas budaya lokal, yang diatur melalui peraturan daerah masing-masing.

Ajakan mandiri mendesain penggunaan aksara Bali untuk nama jalan. Foto: ist

Peraturan ini bertujuan untuk memastikan aksara tradisional (daerah) tetap relevan di era modern dan dikenal oleh generasi muda, serta menjadi penanda identitas budaya yang kuat di wilayah masing-masing.

Sayang provinsi Jawa Timur ini tertinggal dari provinsi provinsi tetangga, yang telah dengan bangga menggunakan aksara daerahnya. Kalau melihat ke belakang, keempat provinsi ini (Jabar, DIY, Jateng dan Bali) memiliki sejarah besar. Misalnya Jabar memiliki kerajaan Sunda, DIY dan Jateng memiliki Kerajaan Mataram dan Bali masih memiliki kerajaan Bali.

 

Provinsi Jawa Timur memiliki kerajaan apa? Terlalu naif jika tidak bisa menjawab.

Jawa Timur adalah lokasi berdirinya kerajaan-kerajaan besar dalam sejarah Nusantara, terutama Kerajaan Singasari (abad ke-13) dan Kerajaan Majapahit (abad ke-13 hingga ke-16), yang merupakan kerajaan Hindu-Buddha berpengaruh, dengan ibu kota Majapahit yang diyakini berada di Trowulan, Jawa Timur, sebagai pusat kejayaan Nusantara.

Memang aksara, yang populer di era Singasari dan Majapahit, adalah aksara Jawa Kuno atau disebut Kawi, tetapi yang masih berkelanjutan hingga sekarang adalah turunannya, aksara Jawa.

Memperkenalkan dan menggunakan kembali aksara Jawa, yang masih berkelanjutan hingga sekarang, adalah pekerjaan yang mudah dan praktis. Sebagai payung hukumnya sudah ada. Yaitu Undang Undang no 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, dan tinggal diimplementasikan saja. Malah di kota Surabaya diusulkan dimasukkannya Aksara sebagai Object kebudayaan.

Surabaya adalah satu dari 38 pemerintahan kabupaten dan kota di Jawa Timur. Sebagai komparasi, di Jawa Barat seperti Bandung, Bogor, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, Sumedang, Majalengka, Kuningan, Ciamis, Sukabumi, Subang, Karawang, Purwakarta, Cimahi, dan lainnya, aksara Sunda sudah ditemukan pada papan nama jalan. Pun demikian dengan di DIY dan Surakarta serta Bali.

Penggunaan aksara Sunda untuk nama jalan di Bandung. Foto: ist

 

Mengapa Jawa Timur menggunakan slogan “Gerbang Baru Nusantara”?

Ini karena Jatim memposisikan diri sebagai pusat kebangkitan budaya (seperti Surya Majapahit) dan inovasi (seperti Surabaya sebagai smart city), yang siap menyongsong IKN sebagai halaman Jawa Timur.

Surabaya masih dengan satu aksara, Latin. Foto: dok pri

Semoga Slogan ini bukan hanya sekedar kata, tetapi benar benar representasi dari peran strategis, potensi ekonomi, budaya, dan komitmen Jatim untuk berkontribusi besar dalam pembangunan nasional menyongsong era baru Indonesia. (PAR/nng).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *