Pemukim Awal Surabaya

Sejarah Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Dari beberapa kawasan di kota Surabaya, diduga ada dua tempat, yang bisa dianggap lebih awal. Yaitu kawasan delta Peneleh – Plampitan dan kawasan delta Jagir.

Di kedua kawasan ini dapat dilihat dari adanya bukti kekunoan. Di kawasan Jagir pernah ada kampung atau desa, yang bernama Patjekan sebagaimana tertulis dalam prasasti Kencana 782 Saka (860 M). Sementara di kawasan Peneleh ditemukan Sumur kuno, Jobong, yang dari hasil uji karbon di Australia, Sumur itu sudah ada pada 1430.

Desa Pacekan dalam Prasasti . Foto: tp

Jika diamati dari prasasti Canggu 1358 M, ada penyebutan nama Syurabhaya, yaitu sebuah desa di tepian sungai (Naditira Pradesa), yang letaknya di Utara ‘Bkul (Bungkul). Diduga Syurabhaya ini berada di kawasan dimana ditemukan kekunoan sumur Jobong (1430 M). Yaitu Peneleh.

Baik sumur Jobong dan prasasti Canggu, yang telah menyebut nama Surabaya sebagai Naditira Pradesa adalah wujud kekunoan suatu daerah.

Namun dalam perkembangan zaman, kawasan delta Peneleh lah, yang jauh lebih berkembang pesat daripada kawasan delta Jagir di selatan Surabaya.

Umumnya memang di pinggiran sungai, yang lebih dekat ke hulu, terbilang lebih awal dari kawasan kawasan, yang ada di kawasan hilir sungai. Mengapa?

Kondisi di hulu sungai lebih stabil, aman, dan memiliki akses air bersih yang lebih baik serta menyediakan lingkungan yang lebih kondusif bagi pembentukan pemukiman manusia permanen pertama.

Kota-kota hilir seringkali berkembang belakangan, seiring dengan kemajuan teknologi pertanian dan perdagangan, yang memanfaatkan jalur air yang lebih lebar dan subur di bagian hilir.

Karenanya kota lama Surabaya, zona Eropa, berkembang lebih belakangan dibandingkan dengan kawasan pinggiran sungai di selatan.

Melihat peta peta lama, yang dibuat pemerintah Belanda, di sana telah tergambar bahwa kawasan, yang sudah berpenduduk: antara delta Peneleh dan delta Jagir, maka Delta Peneleh adalah kawasan hunian yang lebih padat.

Kampung Grogol Kauman di kawasan Peneleh. Foto: dok nng

Seiring dengan perkembangan zaman, bahkan nama nama masyarakat di kawasan delta Peneleh semakin memberi bukti bukti faktual. Yaitu pada nama nama rumah dan makam makam lokal. Mereka adalah komunitas Jawa, yang nama namanya menyandang gelar kebangsawanan Jawa, seperti Raden (laki laki) dan Rara (perempuan). Bahkan model dan arsitektur bangunan tempat tinggalnya adalah bercorak Jawa, selain gaya kolonialan.

Kampung Grogol Kauman berada di sentra kawasan Peneleh. Foto: dok nng

Bahkan di tengah perkampungan dari kawasan delta ini terdapat beberapa kuburan yang ukurannya lebih panjang daripada ukuran normal manusia. Diyakini oleh kalangan masyarakat bahwa kuburan panjang ini menunjukkan adanya orang-orang terkemuka atau penting, seperti raja, pemimpin, atau tokoh agama, yang dimakamkan dalam kuburan yang lebih besar (panjang) untuk menunjukkan status dan kehormatan mereka.

Kubur panjang di kawasan Peneleh. Foto: dok nng

Tanda tanda arkeologis dan historis ini banyak ditemukan di delta Peneleh dan tidak ada di kawasan delta Jagir. Data dan bukti bukti itu sangat relevan dengan riwayat masyarakat yang masih hidup di Peneleh. Ada korelasi antara yang masih hidup – bukti bukti kekunoan dan sejarah lokal.

Ornamet etnis Jawa di Sebuah rumah di Grogol. Foto: dok nng

Jika mengamati nama nama orangnya, baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup, adalah ciri masyarakat etnis Jawa, yang secara kultural dan linguistik berbicara menggunakan bahasa Jawa dan menulis menggunakan aksara Jawa sebelum aksara latin (Eropa) datang pada kisaran abad 17 dan 18.

Demikianlah data historis yang bisa dirangkum mengenai dugaan etnis awal yang menghuni Surabaya. (PAR/nng).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *