Gong Kyai Těntrěm Memayu Hayuning Segara (Bawana)

Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Persis di tepi anjungan Armada Timur (Armatim) Surabaya, berdiri sebuah patung, yang dikenal dengan nama Jalesveva Jayamahe. Jalesveva Jayamahe bermakna “Justru di Lautan Kita Menang” atau “Kejayaan Kita Ada di Laut”. Semboyan ini merupakan doktrin TNI Angkatan Laut (TNI AL), yang berasal dari bahasa Sansekerta.

Tidak jauh dari patung Jalesveva Jayamahe tergantung sebuah gong raksasa, yang bernama “Kyai Tentrem”. Gong ini melengkapi makna filosofis Jalesveva Jayamahe. Secara Filosofi pula, gong ini melambangkan pesan dan peringatan bahwa TNI Angkatan Laut siap siaga memberikan perlindungan dan ketentraman bagi laut Indonesia.

Pesan ini selaras dengan namanya Gong “Kyahi Tentrem”. Gong ini terbuat dari bahan kuningan dengan diameter 6 meter, ketebalan 6 mm, dan berat sekitar 2.2 ton.

Makna filosofis Jawa ini masih menjadi pegangan kebanyakan orang, khususnya masyarakat Jawa dan apalagi berada di tanah Jawa. Hal itu karena alasan alasan mendasar, yang berkaitan dengan budaya, sejarah, dan relevansi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Gong Kyai Těntrěm jaga segara (laut).

Filosofi Jawa, yang masih memiliki relevansi, seperti misalnya konsep eling lan waspada (ingat dan waspada), sabar lan narima (sabar dan menerima), serta mikul dhuwur mendhem jero (menjunjung tinggi orang tua/leluhur) serta memayu hayuning bawana mengajarkan nilai-nilai universal tentang etika, harmoni sosial, dan kebijaksanaan hidup, yang tetap relevan lintas generasi.

Sebagaimana Gong Kyai Tentrem, yang juga disertai dengan penulisan Aksara Jawa di atasnya. ꧋ꦏꦾꦲꦶꦠꦼꦤ꧀ꦠꦿꦼꦩ꧀꧉

Gong Kyai Tentrem di Armatim Surabaya. Foto: tp

Kalau membaca tulisan aksara Jawa itu, sebagaimana juga tertulis pada gawang Gong, akan berbunyi /Kyahi TentrAm/ dalam lafal Indonesia. Mestinya jika dalam lafal Jawa, maka akan berbunyi /Kyahi Těntrěm/ dengan vokal E yang diberi Pepet Těntrěm, bukan Těntram.

Ini kesalahan sedikit, tetapi dalam tata aturan bahasa Jawa akan menentukan makna.

Itulah ajaran Jawa, dimana hal hal kecil menjadi perhatian. Tidak salah sikap demikian itu, karena tradisi Jawa memang sering kali menekankan perhatian terhadap hal-hal kecil karena hal itu didasarkan pada pandangan dunia, yang meyakini adanya keterkaitan erat antara aspek lahiriah (fisik) dan batiniah (spiritual), serta antara manusia dan alam semesta.

Perhatian terhadap detail ini bukan sekadar soal etiket, melainkan manifestasi dari beberapa konsep filosofis utama. Seperti misalnya Memayu hayuning bawana, yang berarti upaya untuk menjaga keharmonisan, keselamatan, dan kesejahteraan bagi diri sendiri, sesama manusia, serta alam semesta.

Contoh nyata sudah di depan mata. Yakni musibah di Aceh, Sumut dan Sumbar. Percaya atau tidak bahwa kerusakan lingkungan karena manusia tidak menjaga bumi (memayu Bawana). Yang berkomentar ini adalah para pakar lingkungan dan geologi.

Konsep Mikrokosmos dan Makrokosmos dalam pandangan Jawa, bahwa manusia (mikrokosmos) adalah cerminan kecil dari alam semesta (makrokosmos). Tindakan sekecil apapun yang dilakukan manusia diyakini dapat memengaruhi keseimbangan yang lebih besar di alam semesta. Contohnya adalah banjir dan tanah longsor di Sumatera.

Demikian pula pada makna Jalesveva Jayamahe dan Kyai Tentrem di anjungan Armada Timur (Armatim) Surabaya. Adakah perhatian dari para pengunjung ke Armatim yang memahami makna itu? (PAR/nng).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *