Aksara Budaya
Rajapatni.com: SURABAYA – Pernah ada majalah beraksara Jawa populer sebelum pendudukan Jepang (1927-1941). Namanya Kajawen ꧋ꦏꦗꦮꦺꦤ꧀꧉

Majalah ini termasuk majalah popular beraksara dan berbahasa (sastra) Jawa, yang diterbitkan oleh Balai Pustaka. Ini merupakan salah satu media penting yang mendukung perkembangan sastra Jawa modern melalui media massa.

Isinya beragam dengan topik topik yang relevan pada zamannya, termasuk budaya, ekonomi, pertanian, kesenian, dan kesehatan. Semua disajikan dalam bahasa dan aksara (sastra) Jawa. Kajawen adalah majalah budaya yang terbit dua kali dalam seminggu.

Majalah Kejawen ini ada untuk menyalurkan dan mengumpulkan tulisan-tulisan, yang berhubungan dengan kebudayaan Jawa, seperti sastra, budaya, dan filosofi, yang pada masanya kurang mendapatkan tempat dalam publikasi umum.
Pendiriannya ditujukan untuk mewadahi minat masyarakat pada kebudayaan Jawa serta menjaga dan mengembangkan warisan budaya tersebut agar tidak hilang tergerus zaman. Ini sejalan dengan misi awal Balai Pustaka untuk mengembangkan bahasa daerah.

Balai Pustaka memang ingin mengembangkan bahasa daerah sebagai bagian dari upaya pelestarian dan pembinaan kekayaan budaya bangsa Indonesia. Langkah ini didasarkan pada beberapa alasan utama yang diantaranya adalah penerbitan bacaan berkualitas.
Pada masa awal pendiriannya, Balai Pustaka (dulu Commissie voor de Volkslectuur) menerbitkan puluhan buku dan majalah dalam bahasa Melayu dan berbagai bahasa daerah seperti Jawa dan Sunda.

Sekarang bacaan berbahasa dan sastra daerah seolah semakin hilang. Mati suri. Hidup segan mati tak mau. Hilangnya bacaan berbahasa dan sastra Jawa ini disebabkan oleh dominasi penggunaan bahasa Indonesia dan Inggris, serta pengaruh budaya global dan media digital karena zaman.
Surabaya memulai dengan bacaan bacaan, yang kembali memperkenalkan penggunaan aksara (sastra) Jawa. Penerbitan ini masih tergolong sangat kecil, tapi menyimpan harapan besar dalam mengiringi pelestarian budaya seiring dengan amanah Undang Undang Pemajuan Kebudayaan.

Sudah ada penerbitan indie beraksara (sastra) Jawa. “Yaitu Titi Tikus Ambeg Welas Asih” (2023) dan “Bung Bebek dan Dewi Melati” (2025). Seiring dengan semangat pelestarian aksara Jawa, akan ada lagi penerbitan penerbitan lainnya yang menggunakan aksara Jawa yang dikemas lebih kekinian.

Penerbitan sastra Jawa dalam upaya pelestarian budaya ini tentunya harus dibarengi dengan pihak pihak lainnya dalam sebuah kolaborasi. Kolaborasi adalah kunci dalam meraih suatu tujuan bersama.

Surabaya adalah kota modern yang telah mengawali dan memperkenalkan penggunaan aksara (sastra) Jawa yang disadari dan didasari oleh fakta bahwa aksara Jawa secara historis memang sudah digunakan di Surabaya sejak berabad abad lalu. Hadirnya kembali aksara Jawa dalam berbagai platform baik signage, artikel, buku dan nantinya majalah adalah menjaga sejarah dan budaya.
Berikut sebuah cuplikan kata pengantar dari redaksi Kajawen yang memberi perhatian kepada seorang gubernur Jendral Belanda yang diduga mengerti bahasa dan aksara Jawa.
ꦝꦮꦸꦃꦢꦊꦩ꧀ꦏꦚ꧀ꦗꦼꦁꦠꦸꦮꦤ꧀ꦲꦶꦁꦏꦁꦮꦶꦕꦏ꧀ꦱꦤꦒꦸꦥꦼꦂꦤꦸꦂꦗꦼꦤ꧀ꦢꦿꦭ꧀꧈ꦱꦏ꧀ꦭꦁꦏꦸꦁꦉꦤꦥꦁꦒꦭꦶꦃꦢꦊꦩ꧀꧈ꦢꦼꦤꦼꦱꦒꦼꦢ꧀ꦲꦚ꧀ꦗꦼꦤꦼꦁꦔꦶꦏꦭꦥꦩ꧀ꦧꦶꦏꦏ꧀ꦏꦶꦥꦸꦤ꧀ꦥꦉꦥ꧀ꦥꦠꦤ꧀ꦥꦺꦴꦊꦏ꧀ꦱꦿꦢ꧀ꦲꦺꦁꦒꦭ꧀ꦥꦸꦤꦶꦏ꧉ꦏꦶꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦏꦶꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦮꦺꦴꦭꦸꦁꦮꦸꦭꦤ꧀ꦲꦶꦁꦏꦁꦏꦥꦼꦁꦏꦼꦂ꧈ꦏꦭꦲꦶꦁꦏꦁꦮꦶꦕꦏ꧀ꦱꦤꦲꦤꦩ꧀ꦥꦶꦥꦔꦸꦮꦱꦤꦒꦫꦶ꧈ꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦥꦫꦶꦁꦝꦮꦸꦃꦥꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦲꦶꦁꦱꦔꦗꦼꦁꦔꦶꦁꦥꦉꦥ꧀ꦥꦠꦤ꧀ꦥꦺꦴꦊꦏ꧀ꦱꦿꦢ꧀ꦲꦸꦒꦶ꧈ꦲꦔꦗꦼꦁꦲꦗꦼꦁꦏꦤ꧀ꦛꦶꦱꦔꦼꦠ꧀꧈ꦩꦸꦒꦶꦩꦸꦒꦶꦥꦩꦉꦤ꧀ꦠꦃꦭꦤ꧀ꦥꦺꦴꦊꦏ꧀ꦱꦿꦢ꧀ꦱꦩꦶꦪꦥꦶꦠꦢꦺꦴꦱ꧀ꦥꦶꦤꦶꦠꦢꦺꦴꦱ꧀꧈ꦭꦤ꧀ꦱꦩꦶꦪꦱꦒꦼꦢ꧀ꦲꦚꦩ꧀ꦧꦸꦢ꧀ꦢꦩꦼꦭ꧀ꦱꦼꦱꦉꦔꦤ꧀꧈ꦩꦸꦫꦶꦃꦱꦒꦼꦢ꧀ꦢꦶꦥꦸꦤ꧀ꦲꦚ꧀ꦗꦒꦶꦠꦠꦠꦼꦤ꧀ꦠꦽꦩꦶꦥꦸꦤ꧀ꦤꦒꦫꦶꦱꦲꦶꦱꦶꦤꦶꦥꦸꦤ꧀꧉ꦏꦤ꧀ꦛꦶꦉꦤꦤꦶꦁꦥꦁꦒꦭꦶꦃꦢꦊꦩ꧀꧈ꦱꦩꦁꦏꦼꦲꦶꦁꦏꦁꦮꦶꦕꦏ꧀ꦱꦤꦱꦒꦼꦢ꧀ꦔꦤ꧀ꦢꦶꦏꦏ꧀ꦏꦏꦼꦤ꧀꧈ꦧꦶꦭꦶꦃꦥꦔꦗꦼꦁꦲꦗꦼꦁꦢꦊꦩ꧀ꦮꦲꦸꦠꦼꦠꦼꦭꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦼꦤ꧀ꦢꦩꦼꦭ꧀ꦭꦶꦥꦸꦤ꧀꧉ꦱꦼꦱꦿꦮꦸꦔꦤ꧀ꦢꦊꦩ꧀ꦲꦶꦁꦏꦁꦮꦶꦕꦏ꧀ꦱꦤꦏꦭꦶꦲꦤ꧀ꦥꦫꦠꦸꦮꦤ꧀ꦠꦸꦮꦤ꧀ꦲꦶꦁꦧꦧ꧀ꦥꦸꦤꦥꦏꦼꦩꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦤ꧀ꦱꦃꦱꦲꦼ꧉ꦥꦸꦤꦥꦩꦭꦶꦃꦏꦭꦲꦶꦁꦱꦊꦧꦼꦠ꧀ꦠꦶꦁꦧꦼꦧꦪ꧈ꦥꦩ꧀ꦧꦤ꧀ꦠꦸꦱꦲꦏꦥꦶꦠꦢꦺꦴꦱ꧀ꦱꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ꦝꦠꦼꦁꦲꦶꦁꦏꦁꦮꦶꦕꦏ꧀ꦱꦤꦥꦸꦤꦶꦏꦕꦼꦛꦱꦪꦼꦏ꧀ꦠꦺꦴꦱ꧀꧉ꦲꦶꦁꦏꦁꦥꦸꦤꦶꦏꦏꦚ꧀ꦗꦼꦁꦠꦸꦮꦤ꧀ꦲꦶꦁꦏꦁꦮꦶꦕꦏ꧀ꦱꦤꦒꦸꦥꦼꦂꦤꦸꦂꦗꦼꦤ꧀ꦢꦿꦭ꧀ꦲꦤ꧀ꦝꦮꦸꦃꦲꦏꦼꦤ꧀ꦒꦼꦁꦔꦶꦁꦥꦤꦫꦶꦩꦃꦲꦶꦥꦸꦤ꧀꧉
Dhawuh dalêm kangjêng tuwan ingkang wicaksana gupêrnur jendral, saklangkung rêna panggalih dalêm, dene sagêd anjênêngi kala pambikakipun parêpatan polêksrad enggal punika. Kintên-kintên wolung wulan ingkang kapêngkêr, kala ingkang wicaksana anampi panguwasa nagari, sampun paring dhawuh pangandika wontên ing sangajênging parêpatan polêksrad ugi, angajêng-ajêng kanthi sangêt, mugi-mugi pamarentah lan polêksrad samia pitados-pinitados, lan samia sagêd anyambud damêl sêsarêngan, murih sagêdipun anjagi tata têntrêmipun nagari saisinipun. Kanthi rênaning panggalih dalêm, samangke ingkang wicaksana sagêd ngandikakakên, bilih pangajêng-ajêng dalêm wau têtela wontên damêlipun. Sêsrawungan dalêm ingkang wicaksana kalihan para tuwan-tuwan ing bab punapa kemawon tansah sae. Punapa malih kala ing salêbêting bêbaya, pambantu saha kapitadosanipun dhatêng ingkang wicaksana punika cêtha sayêktos. Ingkang punika kangjêng tuwan ingkang wicaksana gupêrnur jendral andhawuhakên gênging panarimahipun. (PAR/nng).
