8 Museum dan Peluncuran Buku Dalam Rangkaian Peringatan Hari Kartini dan Warisan Budaya Dunia di Surabaya

Sejarah, Budaya

Rajapatni.com: SURABAYA – Raden Ajeng Kartini sebagai emansipator wanita Indonesia adalah warisan budaya Indonesia baik melalui pikirannya maupun busananya. Pikiran pikiran Kartini yang pada akhirnya tertuang dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” adalah wujud intangible. Sementara pakaiannya yang berupa busana kebaya dan sanggul adalah benda tangible.

Raden Ajeng Kartini sebagai emansipator wanita Indonesia adalah jelas dikenal sebagai warisan budaya baik melalui pikirannya maupun busananya. Pikiran pikiran Kartini, yang pada akhirnya tertuang dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”, adalah wujud intangible. Sementara pakaiannya yang berupa busana kebaya dan sanggul adalah benda tangible.

R.A. Kartini. Foto: ist

Raden Ajeng Kartini bukan hanya meninggalkan warisan berupa emansipasi, tetapi juga warisan budaya yang terbagi dalam dua wujud.

Warisan Intangible (Tak Benda). Pikiran-pikiran Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya dan kemudian dibukukan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang” adalah warisan pemikiran. Ini mencakup cita-cita kesetaraan gender, hak pendidikan bagi perempuan, dan semangat untuk keluar dari adat yang mengekang.

Sementara Warisan Tangible (Benda) adalah wujud Kebaya dan sanggul yang selalu ia kenakan. Itu adalah representasi fisik atau benda nyata dari budaya Jawa-Indonesia yang melekat padanya. Apalagi kebaya diperingati sebagai Hari Kebaya pada 24 Juli.

Peringatan ini bertujuan melestarikan kebaya sebagai warisan budaya dan identitas perempuan Indonesia. Tanggal ini merujuk pada sejarah Kongres Perempuan Indonesia X tahun 1964, di mana peserta mengenakan kebaya.

Karena sosok Kartini melalui pemikiran dan busananya adalah warisan budaya maka sangat tepat sekali ada peringatan Warisan Budaya Dunia, yang menjadi satu dengan peringatan Hari Kartini.

Hari Kartini jatuh pada 21 April. Sementara Hari Warisan Budaya Dunia jatuh pada 18 April. Dua hari penting ini dalam satu peringatan yang akan digelar pada 25 – 28 April di gedung Museum Bank Indonesia (eks De Javasche Bank) di kawasan Kota Lama Surabaya.

Museum Bank Indonesia (De Javasche Bank). Foto: ist

Dari dua peringatan itu akan digelar pameran 8 museum dalam konteks Kartini. Mereka adalah museum museum dari Museum Nasional (Jakarta), Museum kebangkitan nasional (Jakarta), Museum Pergerakan Wanita (DIY), Museum R.A Kartini (Rembang), Museum Tugu Pahlawan (Surabaya), Museum Dr.Soetomo (Surabaya), Museum Bank Indonesia (Jakarta), Museum Jamu Iboe (Surabaya) dan Perpustakaan BI (Surabaya).

Buku baru untuk peringatan Hari Warisan Budaya Dunia 2026. Foto: par
Dukungan secara pentahelix dalam upaya penerbitan buku. Foto: par

Pameran ini berlangsung mulai 25 – 28 April 2026. Sedangkan pada Minggu 26 April akan disisipi dengan peringatan Hari Warisan Budaya Dunia yang ditandai dengan peluncuran buku “Serial Sketsa Kota Lama Surabaya”. Lokasi dimana peringatan ini digelar, Kota Lama Surabaya, adalah wujud warisan budaya Surabaya yang kini sudah menjadi Kawasan Wisata Sejarah Budaya Surabaya. Sementara Kartini adalah wujud warisan budaya baik benda (tangible) maupun tak benda (intangible).

Gelaran dua peringatan Hari Kartini dan Warisan Budaya Dunia ini pas dengan digelarnya di kawasan Kota Lama Surabaya pada 25-28 April 2026. (PAR/nng).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *