Aksara
Rajapatni.com: SURABAYA – Unicode merupakan standard internasional, yang mengatur representasi karakter dalam sistem digital. Aksara Jawa telah diakomodasi dalam standard unicode, sejak unicode 5.2 (2009), sehingga secara teknis aksara ini sudah dapat digunakan dalam berbagai sistem komputer, font, dan perangkat lunak.
Namun demikian, dalam konteks Unicode standard anex #31 (UAX #31): Unicode Indentifier and Syntax, setiap aksara memiliki klasifikasi tertentu terkait penggunaanya dalam identifier, seperti: a) nama domain internet, b) username c) nama variabel dalam bahasa pemrograman dan d) berbagai identifier teknis lain yang memerlukan tingkat keamanan dan keterbacaan tinggi.
Dalam klasifikasi tersebut terdapat beberapa tingkat penggunaan aksara, salah satunya adalah recommended (level 5), yang menunjukkan bahwa suatu aksara dianggap aman dan cukup luas digunakan dalam praktek modern sehingga layak digunakan secara default dalam sistem identifier.
Dokumen umpan balik dari unicode menunjukkan bahwa proses peningkatan status suatu aksara tidak semata mata bergantung pada nilai sejarah atau budaya, melainkan pada bukti penggunaan modern yang luas dan aktif dalam penggunaan sehari hari.
Suatu aksara yang sudah dianggap masuk kategori Recommended (level 5) adalah jika aksara itu sudah digunakan secara luas dan masif dalam kehidupan sehari hari. Di Surabaya penggunaan secara luas dan masif masih langka.

Namun tahapan menuju kesana sudah mulai dilakukan. Sementara ini yang sudah dilakukan di Surabaya adalah penggunaan sebagai papan nama atau signage, materi pembelajaran aksara (masih terbatas), dan lainnya yang lebih menunjukkan aspek revitalisasi, pelestarian dan simbol budaya, bukan penggunaan sebagai alat komunikasi modern sehari hari.
Untuk mencapai digunakannya sebagai alat komunikasi tulis sehari hari masih membutuhkan waktu yang panjang. Namun Surabaya sebagai kota modern sudah sangat berani menampilkan dan memperkenalkan penggunaan aksara tradisional Jawa meski sebagai signage demi pelestarian aksara daerah.
Aksara Jawa adalah aksara yang secara tradisional pernah digunakan di Surabaya pada masa lampau. Ini terbukti dengan adanya prasasti beraksara Jawa di masjid Kemayoran, lingkungan masjid Ampel dan kompleks pemakaman para Bupati Surabaya.

Dalam kekinian, aksara Jawa diperkenalkan dan digunakan dalam penerbitan buku buku modern seperti buku “Surabaya Berani Beraksara Jawa”, “Bung Bebek en De Princess (Dewi Melati)”, 2025 dan “Sketsa Kota Lama Surabaya”, 2026.

Dua buku terakhir “Bung Bebek en De Princess (Dewi Melati)”, 2025 dan “Sketsa Kota Lama Surabaya”, 2026 memiliki cakupan yang lebih luas. Yaitu “go internasional” yang menjangkau wilayah Eropa. Buku Sketsa Kota Lama Surabaya ditulis dalam rangka peringatan Hari Warisan Budaya Internasional, yang diinisiasi oleh komunitas aksara Jawa Puri Aksara Rajapatni Surabaya.
Melihat itu semua, di Surabaya aksara Jawa tidak statis, tetapi dinamis dan aktif. Semua ini dilakukan sebagai tangga menuju status Recommended (level 5) Unicode. Lambat tapi pasti, langkah menuju status Recommended tetap berjalan. Ini menjadi langkah berani Surabaya yang sudah bersifat modern tapi masih mau ngurusi yang bersifat tradisional, yaitu Aksara Jawa.

Ini merupakan terobosan berani. Kebijakan ini dinilai unik karena di tengah modernisasi kota yang pesat, Surabaya tetap berkomitmen melestarikan identitas tradisional dan kearifan lokal.
Untuk sementara pemasangan Aksara Jawa sebagai signage sudah dilakukan dan sekaligus menjadi simbol bahwa modernisasi dan tradisi dapat berjalan beriringan di Surabaya. (PAR/nng)
